Tragedi Menghentak Dusun Sawasina: Siswa Kelas IV SD Akhiri Hidup karena Terbebani Kemiskinan

Indosuaranews.my.id – Sebuah tragedi memilukan terjadi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, pada Kamis (29/1) yang mengguncang hati banyak pihak.

YBS, seorang siswa kelas IV SD yang baru berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh dekat pondok neneknya. Kepergian YBS bukan hanya sekadar peristiwa tragis, melainkan juga menyisakan luka mendalam dengan sepucuk surat perpisahan yang ditulis korban untuk sang ibu.

Surat yang ditemukan polisi berisi tulisan tangan YBS dalam bahasa daerah Ngada, yang mencerminkan betapa dalamnya perasaan sang anak. Dalam surat itu, YBS menulis permintaan maaf dan harapan agar ibunya tidak menangisi kepergiannya.

“Mama molo Ja’o (Mama, relakan saya pergi)… Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya),” tulis YBS dengan menggambar emoji menangis di akhir surat.

Tulisan tersebut terkonfirmasi identik dengan buku-buku sekolah yang biasa digunakan korban. Polisi menegaskan bahwa kejadian ini bukan hanya sebuah tragedi pribadi, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial yang memprihatinkan.

Beberapa jam sebelum peristiwa tersebut, YBS terlihat termenung di bale-bale bambu di dekat rumahnya. Ketika ditanya kenapa tidak masuk sekolah, ia hanya menunduk dengan wajah penuh kesedihan, tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sikapnya ini menjadi petunjuk awal bahwa masalah yang dihadapinya tidak hanya sekadar beban akademis, tetapi juga beban kehidupan yang berat.Ternyata, di balik tragedi ini, tersimpan kisah kemiskinan yang menimpa keluarga YBS.

Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena sebagai alat belajar. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan membuat sang ibu, MGT (47), tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.

MGT, yang telah menjadi seorang ibu tunggal setelah suaminya meninggal dunia, membesarkan lima anak sendirian dan berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.MGT selalu mengingatkan YBS untuk tetap semangat bersekolah meski hidup dalam kesulitan.

Namun, bagi seorang anak seusia YBS, beban ekonomi yang menghimpitnya ternyata menjadi tekanan mental yang sangat berat.Kini, pondok sederhana di Jerebuu, tempat YBS menghabiskan hari-harinya, menjadi saksi bisu atas keputusan tragis seorang anak yang merasa bahwa hidupnya terlalu sempit untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti buku dan pena.

Tragedi ini mengingatkan kita akan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan mental dan sosial, serta bagaimana kemiskinan ekstrem dapat berdampak pada kehidupan generasi muda yang seharusnya masih memiliki banyak harapan dan impian.

Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap kondisi sosial di sekitar kita, terutama bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. ( Red / Ko )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *