Kediri – INDOSUARANEWS , Di belakang Masjid Stono Gedong, Kediri, terdapat sisa-sisa bangunan: reruntuhan candi dari sekitar abad ke-12 yang dahulu menjadi tempat pemujaan Dewa Wisnu. Selain sisa bebatuan pondasi candi, tempat itu juga menyimpan cerita dan suasana yang khas.
Kemegahan kisah sebuah dinasti kerajaan pada era Jayabaya—yang memerintah sekitar tahun 1135 sampai 1157—perlahan terkikis oleh waktu, demikian pula bangunan candinya. Ketika pamor sang raja menurun, bangunan candi pun lambat laun mengalami keruntuhan.
Banyak para peziarah datang, siang maupun malam. Ada yang bertujuan ke masjid, ada yang ke pendopo bekas candi, dan ada pula yang berziarah ke makam-makam. Bahkan pada pukul 00.02 WIB pun masih banyak yang mengunjungi makam Mbah Wasil.
Menurut cerita masyarakat, para peziarah biasanya ramai pada malam Jumat Legi. Suasana pendopo terasa tenang; jika siang hari, banyak kegiatan berlangsung di sana, mulai dari mengaji hingga latihan menari.
Stono Gedong telah menjadi ikon spiritual di Kota Kediri, memiliki daya magnet tersendiri bagi para pelaku spiritual. Tempat-tempat meditasi atau tempat peribadatan selalu meninggalkan kesan tenang dan nyaman.
Banyak yang meyakini adanya energi positif yang terinduksi pada benda atau batu-batu di lingkungan sekitar. Pertanyaannya, apakah jejak “energi vibrasi” seperti itu yang sebenarnya dicari untuk dapat terkoneksi dengan energi tertentu? Namun interpretasi semacam ini tidak memiliki pondasi ilmiah—sepenuhnya bersifat subyektif.
Tahun-tahun sebelumnya, para paranormal dan pelaku spiritual mencoba mengilmiahkan dunia mereka. Hasilnya tentu absurd, karena dasarnya memang berbeda jauh: yang satu berbasis fisik, yang lain berbasis ruhani.
Meskipun banyak orang merasakan energi sekitar Tidar atau energi sekitar Ka’bah, tetap saja analisisnya subyektif dalam kesadaran masing-masing.Hubungan antara fisika kuantum dan spiritualitas sering muncul dalam literatur New Age, seperti teori Orch-OR (kesadaran sebagai proses kuantum di otak) atau gagasan medan kuantum sebagai “kesadaran universal”.
Namun fisikawan arus utama menolaknya sebagai pseudosains karena kurang bukti eksperimen. Di Indonesia, konsep serupa muncul dalam diskusi tentang Ka’bah sebagai “magnet rohani”, tetapi hal itu tetap merupakan interpretasi subyektif, bukan fisika kuantum.
Tempat seperti vortex di Sedona (AS) atau situs geomagnetik lain sering dikaitkan dengan pengalaman spiritual karena adanya anomali medan magnet bumi yang dapat memengaruhi otak manusia, seperti aktivitas temporal lobe atau respons kelenjar pineal.
Beberapa studi spekulatif menyebut fluktuasi geomagnetik dapat memicu altered states selama meditasi, mirip dengan efek medan elektromagnetik pada kesadaran. Namun demikian, hal ini tidak berarti fisika kuantum mendukung keberadaan “energi spiritual”; yang lebih relevan adalah bioelektromagnetisme.
Red : Tohari
Editor : Bayu NR










