Tulungagung – indosuaranews.my.id Berdirinya Al-Ma’had As-Suluuk Ath Thoriqot Al-Kubro (Pondok PETA) didirikan oleh Asy-Syekh Al-Quthub Mustaqim bin Kiyai Muhammad Husein, yang lahir pada tahun 1901 di Desa Kepatihan, Tulungagung.
Sejak usia 12 tahun, beliau dikirim oleh ayahnya untuk belajar agama di bawah bimbingan Kiyai Zarkasyi di Kauman, Tulungagung. Di sana, beliau mempelajari berbagai ilmu agama, termasuk Alquran, hadis, fikih, tauhid, serta ilmu tasawuf.
Pada usia 15 tahun, Syekh Mustaqim melanjutkan pendidikannya ke Malangbong, Garut, untuk mendalami ilmu rohani lebih lanjut dari Syekh Khudlori, yang juga seorang pamannya. Di sana, beliau menerima ijazah Thoriqot Qodiriyah, Naqsyabandiyah, serta ilmu silat ala Sunda.
Pada tahun 1930, Syekh Mustaqim mulai mengajarkan silat kepada masyarakat sebagai bagian dari dakwahnya. Pada masa penjajahan Belanda, silat menjadi populer di kalangan masyarakat, dan banyak perguruan silat bermunculan. Namun, Syekh Mustaqim tidak hanya mengajarkan ilmu bela diri, tetapi juga membimbing murid-muridnya dalam ilmu agama, terutama tentang tasawuf, tazkiyatul qolb, dan amalan thoriqot.
Hal ini menandai awal berdirinya Pondok Kauman, yang kemudian dikenal dengan nama Pondok PETA pada tahun 1963.Pondok PETA mengajarkan tiga aliran thoriqot utama: Qodiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah. Thoriqot ini menjadi pedoman hidup bagi murid-murid pondok dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Syekh Mustaqim selalu menekankan pentingnya niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap aktivitas.Nama Pondok PETA sendiri memiliki dua arti. Pertama, sebagai singkatan dari Pesulukan Thoriqot Agung, yang mengajarkan tiga thoriqot besar.
Kedua, PETA juga berarti Pembela Tanah Air, yang menggambarkan semangat nasionalisme dan patriotisme yang ditanamkan di pondok ini. Ajaran-ajaran yang diberikan oleh Syekh Mustaqim tetap dilestarikan hingga sekarang, dan Pondok PETA menjadi salah satu pusat pendidikan thoriqot yang penting di Indonesia.
Pondok PETA juga memiliki peran penting dalam Muktamar Jam’iyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh (JATMAN) ke-III yang diadakan di Tulungagung pada tahun 1963. Dalam muktamar tersebut, Pondok PETA turut berkontribusi dalam penyelenggaraan acara dan menjadi pusat kegiatan bagi sebagian besar muktamirin.
Hingga kini, pondok ini terus berkembang dan melahirkan generasi-generasi penerus yang mengamalkan ajaran-ajaran Syekh Mustaqim.
( Fadilah )











