Aristophanes adalah dramawan komedi Yunani Kuno yang hidup sekitar tahun 446 sampai 385 SM di Athena. Ia dikenal sebagai pelopor komedi kuno dengan bahasa yang satir, kritik politik, dan perang di zamannya.
Aristophanes memengaruhi komedi Barat dengan gaya bahasa kasar, dan kritik sosial langsung. The Clouds nya bahkan disebut berkontribusi pada pengadilan Socrates pada 399 SM, meski itu parodi bukan fakta historis. Ia juga muncul sebagai karakter dalam Symposium karya Plato.
Humor Aristophanes ciptakan katarsis tawa yang membersihkan ketegangan sosial tanpa tragedi. Ia sindir semua lapisan jenderal, politisi, dan filsuf, membuat teater jadi forum kritik bebas di Athena yang demokratis.
Tertawa memiliki hubungan positif kuat dengan kesehatan mental melalui pelepasan endorfin, dopamin, dan serotonin yang mengurangi stres serta meningkatkan suasana hati. Studi menunjukkan tertawa menurunkan kadar kortisol hingga 32-37%, mengurangi gejala depresi dan kecemasan secara signifikan.
Analisis 2023 temukan bahwa tertawa spontan bisa mengurangi kortisol 32% efektif sebagai terapi tambahan untuk well-being. Penelitian lain konfirmasi manfaat lebih besar secara psikologis daripada fisiologis, termasuk pada skizofrenia dan multiple sclerosis.
Tertawa memengaruhi sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal), mengurangi respons stres. Efek ini konsisten lintas metode dan pengukuran. Sarankan tawa sebagai terapi tambahan untuk well-being.
Ada studi pendukung lain, penelitian Jepang dan Norwegia di tahun 2025. Yakni menghubungkan antara tawa dengan penurunan kortisol berdampak positif. Mendukung umur panjang dan kesehatan jantung. Efek relaksasi alami dan aktifkan proses pemulihan tubuh.
Komedi sebagai Katarsis
Ada pepatah “Buruk muka cermin dibuang.” Komedian hanya menunjukkan realitas dari alur logika yang murni. Ketika A menunjukkan eksistensinya, maka Z menampilkan dirinya dari dampak eksistensi A.
Kita hidup di gelembung yang dibangun oleh masyarakat kita sendiri, yakni bernama negara. Setiap kebijakan yang dibuat oleh penguasa akan berdampak pada masyarakat. Logika yang disampaikan oleh penguasa menggugah logika masyarakat.
Ketidakmampuan penguasa, blundernya nalar, dan realitas kebohongan yang ditutup-tutupi, inilah yang menjadi subyek komedian. Z atau masyarakat mengerti alur ini, dan ketika masyarakat menyampaikan ulang, maka hal itu menjadi katarsis.
Mengapa ada katarsis? Ada letupan tawa, ada tawa yang ngakak sebagai energi reaksi, sebagai persepsi yang dibuka. Karena penguasa memaksa logika yang keliru, dari logika menjadi kekuasaan.Dari kekuasaan yang dipaksakan, Z sebagai dampak tumpukan endapan sampah logika, membutuhkan ruang pelepasan, membutuhkan kran agar pikirannya mengalir.
Dari tekanan menjadi ledakan tawa.Pandji Pragiwaksono hanyalah seorang mediator, mengamati lalu lintas logika kebijakan publik. Ia tidak sedang mengejek atau memfitnah. Ia hanya menyampaikan suatu alur kebijakan yang blunder dan menyesakkan.
Karena kita hidup di alam pemikiran yang sempit, politikus yang kerdil.Kebutuhan katarsis terhadap hawa pengab politik tidak hanya ditingkat tertentu pada masyarakat, tetapi semua lapisan masyarakat membutuhkan katarsis. Untuk kesehatan mental. Karena tertawa adalah pelepasan dari kebodohan.
Red ( Tohari )
Editor : Bayu NR





