Gelombang Teror Terhadap BEM UGM, Tiyo Ardianto: BEM UGM Menanggapi dengan Solidaritas dan Keraguan terhadap Polisi

INDOSUARANEWS-Gelombang teror yang semula hanya menyasar Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, kini berkembang lebih luas dan mengkhawatirkan. Awalnya, intimidasi hanya dialami oleh Tiyo dan kedua orang tuanya. Namun, dalam perkembangannya, lebih dari 40 pengurus BEM UGM ikut menerima teror dari nomor tak dikenal.

Tak hanya itu, orang tua beberapa pengurus lainnya juga menjadi sasaran aksi serupa, dengan pola yang sama: pesan dan panggilan misterius yang menimbulkan rasa tidak aman.Tiyo Ardianto menjelaskan bahwa meskipun teror ini sudah mendapatkan perhatian publik, tekanan tersebut belum benar-benar berhenti.

“Teror kepada kami dan pengurus BEM yang kini menjadi isu publik rupanya masih terjadi,” ungkapnya. Untuk merespons situasi ini, BEM UGM tidak tinggal diam. Mereka telah menjalin koordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), serta pihak Universitas Gadjah Mada.

Meski berbagai pihak mendorong agar kasus ini dilaporkan kepada aparat penegak hukum, BEM UGM hingga kini masih mempertimbangkan langkah tersebut dan belum memilih menempuh jalur hukum. “Fokus utama BEM UGM saat ini adalah menyampaikan evaluasi dan kritik kepada pemerintah,” tambah Tiyo.

“Kami akan senantiasa melawan dan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat.”Tiyo juga mengungkapkan bahwa meski mendapatkan teror, hubungan antar pengurus BEM UGM semakin solid.

“Terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena justru persaudaraan di antara teman-teman BEM UGM semakin solid. Karena punya nasib yang sama, yaitu menjadi korban dari teror nomor-nomor yang tidak dikenal.”Namun, ketidakpercayaan terhadap institusi kepolisian menjadi salah satu alasan mengapa BEM UGM enggan melaporkan teror tersebut.

“Untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian, itu juga menjadi satu keraguan bagi kami. Karena baru terjadi kemarin, seorang polisi yang membunuh rakyat Indonesia, membunuh anak bangsa Indonesia. Lalu dengan situasi seperti ini, kita akan minta tolong ke polisi? Rasanya kemanusiaan kami justru dipertanyakan,” tegasnya.

Peristiwa tragis yang terjadi di Tual, Maluku, pada Kamis (19/2/2026), di mana seorang anak meninggal dunia seusai dianiaya oleh anggota Brimob Polda Maluku, semakin memperkuat keraguan BEM UGM untuk melaporkan teror ini kepada kepolisian. “Teror ini masih sebatas digital, sehingga justru kami tidak mau disibukkan dengan itu,” jelasnya.

Editor : Bayu NR|Sumber: Tribuntrend

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *