JAKARTA – Ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) akan tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Maret, yang digelar pada awal pekan ini.
Posisi itu tak berubah dari Oktober 2025, setelah beberapa kali pemangkasan pada bulan sebelumnya.Sebanyak 30 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg bahkan kompak dengan perkiraan tersebut, di tengah tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sebagai catatan, tekanan terhadap rupiah bertambah signifikan setelah konflik antara AS dan Iran memanas dan mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.Jika BI Rate tetap dipangkas, maka tekanan terhadap nilai tukar rupiah diyakini bertambah signifikan.
Sementara investor tengah menghadapi kekhawatiran defisit fiskal yang berpotensi tembus 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan komitmen pemerintah Indonesia untuk tetap menjaga disiplin fiskal, di tengah gejolak pasar global menyusul konflik AS dan Iran.
Ia juga mengaku bahwa BI akan tetap bersikap independen.Pada perdagangan Senin (16/3) kemarin, nilai tukar rupiah melemah 0,23% dan tutup di level Rp16.997 per dolar AS, setelah sempat mencapai level intraday tertingginya di Rp17.008 per dolar AS.
Padahal indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah 0,65% dan membuat mata uang Asia seperti won Korea dan ringgit Malaysia naik lebih dari 0,20%.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,61% dan tutup di level 7.022,29. Penurunan ini membuat IHSG berada di peringkat terbawah di antara indeks saham acuan negara emerging Asia lainnya.
Editor : Bayu NR











