Tulungagung – indosuaranews.my.id ,Sabtu , 31/01/2026 Di pekarangan sebuah kampung yang suasananya suram dan lembab, ditumbuhi semak belukar dan beberpa gerombol pohon bambu. Ada sebuah batu prasasti berdiri tegak menancap, di pagari tembok di kellilingi bangunan dan atap berbentuk joglo untuk melindungi dari panas sinar matahari.
Batu itu masyarakat menyebutnya Situs Batu Tulis. Teletak di desa Sumberingin Kulon, Ngunut, Tulungagung.Menurut data prasasti ini dikeluarkan oleh sri maharaja kertajaya, Raja terakhir Kerajaan Kadiri.
Prasasti ini menjadi penting karena mencatat waktu, tokoh, dan peristiwa masa lalu dengan aksara Kawi atau Jawa Kuno. Lokasi ini sering sebagai rujukan penelitian untuk mempelajari sejarah dan masyarakat secara sosiolgis atau geopolitik dimasa lampau.
Prasasti ini menjadi bukti peran Tulungagung di era Hindu-Buddha dan kini diusulkan sebagai cagar budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya Tulungagung, dengan kondisi terawat di bawah cungkup permanen.
Prasasti ini ditulis dalam aksara Jawa Kuno pada batu andesit, namun teks lengkap aksara aslinya tidak tersedia secara lengkap di sumber umum yang diverifikasi. Aksara tersebut mencatat penghargaan raja kepada wilayah setempat.
Terjemahan isi prasasti diantaranya menggambarkan penghargaan dan pemberian hak istimewa atas wilayah (buntel) sebelum berganti nama sumberingin, termasuk wilayah administratif dan bebas pajak atau perdikan. Secara spesifik, disebutkan sebagai bentuk penghargaan kepada wilayah tersebut pada masa Kerajaan Panjalu.
Kertajaya, raja terakhir Kerajaan Kediri (Panjalu), ia memerintah sekitar tahun 1194 sampai 1222. dalam Kitab Pararaton, Kertajaya disebut sebagai Sri Maharaja Srengga atau Sri Digjaya Resi, yang juga dikenal dengan julukan Dhandhang Gendhis. (Tohari)










